Roy Suryo: Sejarah “Indonesia Raya” Tidak Perlu Dikontroversikan

16 Agustus 2007

SEMARANG-Pengamat multimedia yang peduli sejarah dan musik, KRMT Roy Suryo Notodiprojo, menyatakan sebenarnya pengungkapan sejarah Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” sama sekali tidak perlu dikontroversikan, apalagi malah ada pihak-pihak yang tampak kecolongan akibat ranahnya dimasuki atau dikoreksi. Namun yang paling menggelikan adalah juga tampak banyak pihak yang kemudian “menumpang” isu dengan mendukung statemen yang salah terhadap persepsi lagu ini. Menariknya banyak juga pihak yang awalnya “tertidur” sekian lama, menjadi ”terbangunkan” dengan pengungkapan sejarah ini.

“Hal tersebut tampak sekali dengan ‘kegagapan’ beberapa pihak tertentu dalam menyikapi kemunculan kembali bagian dari sejarah negara ini, di mana sebenarnya tidak perlu disikapi emosional, apalagi sampai harus menggunakan ‘tangan-tangan tertentu’ untuk membuat character assasination kepada saya di berbagai tempat,” katanya dalam keterangan pers yang dikirim ke Suara Merdeka, kemarin.

Namun demikian, lanjut dia, apa pun risikonya, sebagai konsekuensi perjuangan untuk menegakkan kebenaran semua diterimanya dengan legawa dan menghargainya sebagai bagian dari demokrasi.

Ia juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua masyarakat, pengamat dan pelaku seni dan budaya, media massa, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) hingga pejabat Indonesia mulai dari level menengah, menteri, sampai ke level tertinggi, yang telah memberikan perhatian dan dukungan atas pengungkapan kembali Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (3-stanza) yang baru-baru ini dimunculkan kembali dan sangat marak di berbagai media massa.

“Meskipun akhirnya saya ditohok dari belakang atau dikhianati oleh tim yang awalnya membantu pengungkapan sejarah ini. Namun bagaimanapun saya tetap mengucapkan terima kasih kepada Tim AP, khususnya koordinatornya, walau saya akhirnya hanya bisa mengatakan kepada anggota tim bahwa kedewasaan berpikir, mengeluarkan pendapat, apalagi berani bersikap itu bukan hal yang sangat sederhana.”

Menurutnya, lagu “Indonesia Raya” 3-stanza realitanya adalah bagian dari Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia. Dalam catatannya, setidaknya lagu ini pernah mengalami perubahan hingga 4 (empat) kali sebelum akhirnya direvisi Jos Cleber & Jusuf Ronodipuro atas permintaan Bung Karno menjadi 1-stanza. Oleh karenanya sejarah tidak boleh dilupakan, apalagi — sengaja — dihilangkan, sejarah justru harus diperkaya dan dimuliakan.

Bagaimanapun juga, kata dia, pengungkapan sejarah Lagu Kebangsaan “Indonesa Raya 3-stanza” ini barulah awal dari aplikasi Teknologi Komunikasi Informasi dan Multimedia yang bisa digunakan untuk kemaslahatan manusia.

dari http://suaramerdeka.com/harian/0708/16/nas11.htm


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.